AG Mutyara; Tentara Nasional, Sastrawan dan Jurnalis

Oleh : Muhammad Syarif, SHI, M.H*

Ketika kita membaca literatur pergolakan DI/TII Aceh, 20 September 1953 yang diproklamirkan oleh Daud Beureeh, maka tentu semangat jihad dan ke-NKRI-annya jangan disalah artikan. Tentu semuanya akibat dari kekecewaaan yang terjadi. Dalam filem India lazimnya disebut ada “sengkuni”. Perjuangan Daud Beureuh dalam mempertahan NKRI dari penjajahan kolonial Belanda ternyata dikianati pasca Indonesia merdeka.

Dimana sebelumnya wilayah langkat, deli dan Sumetera Utara bagian dari kekuasaan Daud Beureuh selaku Gubernur Militer Daerah Isimewa Aceh. Dileburnya propinsi Aceh dalam yuridiksi Provinsi Sumatera Utara, Medan, membuat Daud Beureuh berang dan kecewa, dianggap pengkianatan atas jasa baik rakyat Aceh dalam merebut dan mempertahankan NKRI.

Mungkin tidak banyak yang kenal bahwa sosok pemuda AG Mutyara, banyak berjasa dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia, termasuk juga menjembatani pergolakan Aceh dengan Republik Indonesia. AG Mutyara lahir di Jangkabuya Tahun 1923 salah seorang tokoh Aceh yang telah berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari agresi kedua Belanda.

AG Mutyara bukan hanya jago dalam bidang tempur, karna ia memang seorang Tentara Kemanana Rakyat (TKR) yang kini menjadi TNI. Beliau tergabung dalam kesatuan Divisi V/TKR Komandemen Sumatera yang dikomandoi oleh Kolonel Syamaun Gaharu dan Mayor Hamid Azwar sebagai kepala Staf. Ketangkasan AG dalam bidang Jurnalis, Kolonel Husein Yusuf mengajak AG Mutyara untuk memperkuat organisasi Militer Aceh dalam bidang penerangan, sekaligus melakukan propaganda guna meningkatkan semangat juang prajurit untuk melawan Belanda.

Kiprah AG Mutyara dibidang penerangan Militer sesuai jabatan yang ia emban sebagai Kepala Jawatan Penerangan Divisi Gajah I TNI Komandemen Sumatera dengan pangkat Kapten. Salah satu karya besarnya adalah menerbitkan majalan tiga bulanan yang diberi nama” Pahlawan” pada Tahun 1947 dan beliau langsung menjadi Redpelnya.

Penerbitan majalah Pahlawan dalam rangka memotivasi prajurit TNI agar memiliki semangat juang yang tinggi, termasuk ulasan jitu tentang strategi perang dan pengetahuan tentang kemiliteran secara universal.

AG Mutyara juga dipercayakan menjadi Ketua Redaksi Majalah Dharma, yaitu majalah kebudayaan yang memuat karangan-karangan bertema sejarah, politik, sosial, ekonomi, seni dan sastra. Situasi politik menghadapi agresi Belanda serta restruktururisasi kelembagaan TNI berimplikasi pada posisi jabatan AG Mutyara dinaikkan satu tingkat menjadi Mayor. Salah satu peran Mayor AG sebagai kepala Penerangan TNI Divisi X Komandemen Sumatera dalam menghadapi Agresi Militer II Belanda adalah menggelorakan semangat jihad melalui pena dalam melawan Belanda dan juga lewat pesan Radio Rimba Raya.

AG Mutyara Meninggalkan Militer

Tahun 1949 Pemerintah Pusat melakukan reorganisasi dan rasionalisasi terhadap organisasi TNI, khususnya Angkatan Darat. Kebijakan tersebut membawa dampak yang tidak menguntungkan bagi Aceh. 1 November 1949, Divisi X/TNI Komandemen Sumatera diubah menjadi Komando Tentara dan Teritorium (TT) Aceh, membawahi dua Brigade, yang bermarkaz di Bireun (Brigade I) dan Kutaraja (Brigade II). Pada Tahun 1951 Komando TT Aceh diperkecil lagi menjadi hanya satu Brigade CC yang tergabung dalam TT I/Bukit Barisan selanjutnya dirampingkan lagi setingkat Resimen. Dalam waktu yang tidak lama Brigade inipun dipindah ke Tarutung, Sumatera Utara dan diganti menjadi Brigade AA dibawah Komando Mayor Hasballah dan Mayor Husen Syah sebagai kepala staf.

Kekecewaan ini kian bertambang dengan dileburnya Provinsi Aceh menjadi keresidenan Aceh yang berada di bawah Provinsi Sumatera Utara. Bukan hanya AG Mutyara yang kecewa, akan tetapi semua rakyat Aceh kecewa kala itu. Termasuk  Daud Beureuh yang pernah menjabat sebagai Gubernur Militir Aceh, Langkat dan Tanah Karo menyatakan pemberontakan terhadap Pemerintah Pusat dengan mengusung bendera Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Selanjutnya pada tanggal 20 September 1953 Teungku Muhammad Daud Beureuh yang juga tokoh Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) menyatakan Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia (NII) Kartosuwiryo. Puncak dari kekecawaannya AG Mutyara mengundurkan diri dari TNI dan kemudian bergabung dengan DI/TII Aceh yang diberikan amanah oleh Daud Beureuh sebagai Menteri Perdagangan DI/TII. 

AG Mutyara juga menjadi tokoh sentral dalam merajut kembali keretakan DI/TII Aceh dengan Pemerintah Republik Indonesia dengan membentuk Dewan Revolusi. Dewan Revolusi ini akhirnya merajut kembali harmonisasi Aceh dengan Pemerintah Republik Indonesia,sehingga berdamai. Berkat jasanya pula pemerintah menawarkan kembali agar ia aktif kembali sebagai anggota TNI, akan tetapi tawaran itu ia tolak.

AG Mutyara memilih jalan lain menjadi pengusaha, Jurnalis dan Santrawan. Kelincahan dan kepiawaiannya dalam menarasikan setiap peristiwa membuat ia tertarik membuat media. Dimana sebelumnya ia memang aktif menjadi Redaktur Surat Kabar Aceh Sinbun. Beberapa karyanya cukup terkenal antara lain Sikembang Gugur, kumpulan Novel, Menunggu di Pelembahan.

Ia pun dinilai sukses sebagai pengusaha perkebunan yang diberi nama PT. Parasawita. Keberhasilannya dalam bidang bisnis, menjadikannya sebagai salah seorang pengusaha yang disegani di Kota Medan dan ia akhirnya menginisiasi pendirian Organisasi Pengusaha asal Aceh di Kota Medan yang diberi nama Aceh Sepakat. Tentunya keberhasilan AG Mutyara tidak terlepas dari peran ayah dan bundanya. AG Mutyara layak dinobatkan sebagai salah satu tokoh Aceh yang berjasa dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Wallahu`alam binshawab

*Penulis adalah Sekjend DPP ISKADA Aceh, Dosen Hukum Tata Negara UIN Ar-Raniry, Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Banda Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *